Minggu, 04 Oktober 2009

Pelajaran Di Balik Saat Kejadian Gempa Padang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa bumi tektonik di Padang Sumatera Barat terjadi pada pk 17.16 WIB, hari Rabu tanggal 30/9 Tahun 2009, dengan kekuatan 7.6SR. Lokasi gempa bumi berjarak lebih kurang 57 Km Barat Daya Pariaman-Sumbar dengan kedalaman 71 Km. Gempabumi tersebut dirasakan di Gunung Sitoli, Mukomuko, Sibolga, Liwa, Padang, Jakarta, Singapura hingga Malaysia.
Gempa tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan musibah yang sangat besar karena telah meluluhlantakan kota Padang sedemikian rupa. Semua orang terutama orang Islam yakin musibah ini adalah kehendak Allah SWT untuk memperingatkan hambaNya atas segala perbuatan yang telah dilakukan.
Dengan keyakinan bahwa bencana tersebut adalah peringatan dari Allah SWT, maka ada baiknya kalau kita tengok Al Qur’an sebagai kitab yang salah satu fungsinya Allah SWT tetapkan sebagai peringatan kepada seluruh umat manusia. Ada pesan-pesan dalam gempa tersebut yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran terkait dengan kebenaran akan pesan-pesan yang tertulis dalam Al Qur’an. Peringatan tersebut terkait dengan waktu kejadian yang terjadi pada pk 17.16 WIB dan tanggal kejadian yang jatuh pada tanggal 30 bulan 9.

Kalau kita buka Al Qur’an Surat ke 17 yaitu Surat Al Isra ayat 16 (QS 17:16) maka sungguh mengejutkan bahwa dalam ayat tersebut diterangkan mengenai salah satu sebab terjadinya bencana yang terjadi pada suatu negeri merupakan akibat dari kedurhakaan dari orang-orang yang hidup mewah di negeri itu.
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al Isra-17:16)
Kalau dilihat dari tanggal kejadian yang jatuh pada tangal 30/9 maka dalam QS Ar Ruum ayat 9 (QS. 30:9) diterangkan juga bahwa semua bencana terjadi bukan karena Allah zalim kepada mereka melainkan merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar Ruum-30:9)
Semoga semua peringatan ini menjadikan kita sadar untuk bermuhasabah atau mengevaluasi setiap sisi kehidupan kita apakah sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Semoga dengan peringatan ini kita selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan dengan Sunah Rasulullah SAW sebagai petunjuk teknis pelaksanaannya.
Wallahu a`lam bis-shawab



Baca Selengkapnya......

Rabu, 26 Agustus 2009

Muhasabah : Apa yang salah dengan puasa kita

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati Ramadhan tahun ini. Solawat serta salam selalu tercurah kepada manusia paling mulia, tauladan kita semua Rasulullah Muhammad SAW.

Puasa adalah ibadah yang unik tidak seperti ibadah lainnya karena satu-satunya ibadah ragawi yang hanya orang yang melaksanakan dan Allah SWT saja yang mengetahui kalau puasa itu dilakukan atau tidak. Oleh karena itu, sesungguhnya puasa itu hanya akan dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah SWT karena ia senantiasa sadar bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak mungkin baginya untuk mengkhianati puasanya kendati tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Sungguh benarlah firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat 183 bahwa puasa itu akan menuntun seorang mukmin untuk mencapai derajat taqwa.

Anehnya, kalau diperhatikan banyak di antara kita yang getol puasa namun tidak seperti orang yang benar-benar taqwa dalam arti masih juga (sadar atau tidak sadar) melanggar apa yang dilarang oleh Allah dan enggan menjalankan perintahNya seakan-akan kurang yakin bahwa segala keburukan akan dibalas dengan neraka dan setiap kebaikan akan membawa seseorang ke dalam surganya Allah SWT.

Marilah kita bermuhasabah mungkin iman kita belum sempurna sehingga kita tidak yakin dengan segala yang Allah SWT firmankan dalam Al Qur'an. Kita mungkin beriman kepada Allah sehingga kita mau berpuasa, tapi mungkin kita belum menyempurnakan rukun-rukun iman yang lain seperti beriman kepada malaikat dengan meniru sifat-sifat malaikat yang selalu patuh pada perintah Allah SWT tanpa kecuali; iman kepada kitab Allah dengan menjadikan Al Qur'an sebagai satu-satunya pedoman hidup, iman kepada Rasul Allah dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dalam setiap langkah dan gerak hidup kita; iman kepada hari akhir dengan menyadari bahwa setiap perbuatan selalu ada konsekuensi yang harus kita tanggung di hari akhir sehingga membawa kita untuk selalu melakukan perbuatan yang akan berbuah surganya Allah dan menghindari segala perbuatan yang berujung kepada neraka; dan iman kepada qadla dan qadar yang selalu menyadarkan kita bahwa setiap kejadian adalah merupakan kehendak Yang Maha Berkehendak yaitu Allah.

Dengan mengevaluasi hal-hal tersebut diharapkan kita akan selalu ingat dan sadar bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini yang terpenting adalah selalu berada di jalanNya tanpa sedikit pun penolakan baik yang berasal dari hati maupun dari akal kita.

Semoga di bulan yang baik ini, kita diberi petunjuk oleh Allah untuk dapat memperbaiki diri dan menyempurnakan keimanan kita kepada Allah SWT. Amiin



Baca Selengkapnya......

Minggu, 29 Maret 2009

Ketenangan Hati Hanyalah Permainan Hati - Kisah Abunawas yang Sarat dengan Makna

"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian sebenarnya".

Perasaan sedih dan gembira sebenarnya tidak bergantung pada keadaan itu menyenangkan atau tidak, tapi lebih pada cara pandang kita terhadap keadaan yang sedang kita hadapi. Ketika kesulitan tengah merundung, kadang kita malah bersyukur karena kita sadar bahwa kesulitan itu adalah ujian dari Allah yang justru akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, kadang kita justru mengeluh ketika ketika mendapatkan keuntungan tetapi besarnya tidak mencapai target yang kita inginkan.
Ada kisah Abunawas yang menurut saya sangat cerdas dalam menggambarkan bagaimana ketenangan hati itu hanyalah permainan (sebut saja “manajemen”) kalbu dalam menyikapi persoalan hidup. Bagi yang berminat silahkan baca kisah yang menggelikan tapi sarat dengan hikmah berikut ini.

Sudah lama Abunawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap baginda. Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abunawas. Tentu saja keadaan kedai tidak semarak karena Abunawas Si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. Ia mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapai.
salah satu teman Abunawas ingin mencoba menolong.
"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barangkali aku bisa membantu", kata kawan Abunawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia", kata orang itu membeberkan kesulitannya.
Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya. sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abunawas sedang mengaji. Setelah mengutarakan kesdulitan yang sedang dialami, Abunawas bertanya kepada orang itu.
"Punyakah engkau seekor domba?".
"Tidak tetapi aku mampu membelinya", jawab orang itu.
"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu", Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abunawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abunawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba", kata orang itu mengeluh.
"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung membeli beberapa ekor unggas yang kemudian dimsukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu datang algi ke rumah Abunawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami bertambah tersiksa", kata orang itu dengan wajah yang semakin muram.
"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu", kata Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung ke pasar hewan membeli seekor unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abunawas. ia berkata,
"Wahai Abunawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi mengerikan daripada hari-hari sebelumnya. Wahai Abunawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binantang itu", kata orang itu putus asa.
"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan, ,aka juallah anak-unta itu" kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual anak unta yang baru dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abunawas pergi ke rumah orang itu.
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?", Abunawas bertanya.
"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal di sini", kata orang itu tersenyum. " baiklah, kalu begitu sekarang juallah unggas-unggasmu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Ia langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abunawas mengunjungi orang itu.
"bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?", Abunawas bertanya.
"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak tinggal bersama kami" kata orang itu dengan wajah ceria.
"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu", kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang ahti ia langsung menjual dombanya.
Beberapa hari kemudian Abunawas bertamu ke rumah orang itu. Ia bertanya.
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?".
"Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi bersama kami. Dan kami sekarang merasa lebih bahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abunawas", kata orang itu dengan berseri-seri.
"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu", kata Abunawas menjelaskan.
Dan sebelum Abunawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,
"Apakah engkau sering berdoa?".
"Ya", jawab orang itu.
"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian sebenarnya".



Baca Selengkapnya......

Senin, 12 Januari 2009

Do’a Untuk Saudara Kami di Palestina

Tak pernah lelah setiap hari media massa memberitakan kalau Zionis Israel laknatullah terus melancarkan serangan militer ke jalur Gaza. Sedih bercampur geram rasanya hati ini manakala mendengar semakin banyak wanita dan anak-anak yang menjadi tumpuan masa depan Palestina yang tewas dalam agresi militer tersebut. “Ya Allah, bencana ini bisa terjadi pastilah atas kehendak dan kekuasaan-Mu” demikian hati ini bergumam. “Entah hikmah apa yang ingin engkau tunjukkan kepada kami yang lemah dan bodoh ini” kembali hati ini bertanya-tanya.

Semoga saja hal ini terjadi karena memang derajat keimanan mereka sangatlah tinggi sehingga ujian ini masih Allah SWT tibakan untuk mereka sebagaimana Firman-Nya :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al 'Ankabuut : 2-5)

Ya Allah datangkanlah azab-Mu kepada mereka yang telah berbuat kezaliman kepada saudara kami dan berikanlah balasan yang sempurna atas amal-amal saleh saudara-saudaraku yang tengah menghadapai ujian itu sebagaimana janji-Mu :

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar (QS. Al Buruuj : 10-11).

Aku yakin bahwa Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang baik untuk kami dan saudara kami dan kapan saat baik itu akan datang karena sesungguhnya Engkau telah berfirman :

Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh (QS. Al Qalam : 44-45).

Semoga Engkau berkenan untuk mendengar dan mengabulkan do’a kami yaa Allah.
Amiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.


Baca Selengkapnya......

Jumat, 02 Januari 2009

Jangan Pernah Tinggalkan Shalat !!!!!

Suatu siang saat aku hendak menunaikan shalat dzuhur di mesjid yang berlokasi di pasar tempat usaha yang dikelola istriku, aku melihat seorang pedagang mainan anak yang sedang tidur lelap di beranda mesjid. Saking lelapnya, ia tidak mengetahui bahwa sepeda yang digunakannya untuk menjajakan barang dagangannya roboh diterpa angin yang hari itu bertiup cukup kencang. Sejenak aku merasa iba pada keaadaan bapak yang terlihat sangat lelah dan lusuh itu. Betapa, untuk mengais rezeki yang hendak ia gunakan untuk menafkahi keluarganya, ia harus menguras tenaganya dengan mengayuh sepeda tua ke sana ke mari untuk mencari pembeli. Sungguh tidak terbayangkan jika aku harus menjalani usaha dengan cara seperti itu.

Akan tetapi, hatiku menjadi miris manakala aku mengetahui bahwa bapak pedagang mainan itu mampir ke mesjid hanya untuk melepaskan rasa lelah. Begitu bangun, ia segera berlalu tanpa menunaikan shalat dzuhur terlebih dahulu. Sungguh sedih rasanya melihat fenomena seperti itu. Banyak sekali umat islam semacam bapak pedagang mainan itu yang mau bersusah payah untuk mencari rezeki walaupun menurut hitungan matematis tidak juga membuat ia dapat hidup dengan layak tetapi dengan mudahnya meninggalkan shalat.

Pantas saja Imam Al Ghazali berpendapat bahwa hal yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan shalat seperti terlihat dalam kutipan percakapan beliau dengan muridnya yang pernah dimuat dalam postingan sebelumnya (link). Kutipan percakapan tersebut bunyinya kurang lebih sebagai berikut.
Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “

Mungkin zaman sekarang sudah dipenuhi generasi yang suka menyia-nyiakan shalat seperti yang difirmankan ALLAH SWT dalam QS. Maryam: 58-60.
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun."


Ibnu Katsir menjelaskan, generasi “adhoo’ush sholaat” yang dijelaskan dalam ayat di atas adalah orang yang jauh dari agama. Untuk urusan shalat saja mereka sudah menyia-nyiakan, apalagi untuk kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu merupakan tiang agama dan pilarnya serta sebaik-baik perbuatan seorang hamba, maka pastilah kualitas beragama orang yang menyia-nyiakan shalat pastilah sangat rendah. Tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia, maka pastilah mereka itu akan menemui kesesatan yang artinya mereka pasti akan menemukan kerugian di hari qiyamat.
Orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah merugi. Bahkan status keimanan seseorang sangat diragukan sebagaimana tercermin dalam hadits :

“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Dalam QS. Maryam: 58-60 di atas diceritakan mengenai orang-orang saleh, terpilih, dan nabi-nabi yang sangat patuh kepada Allah SWT. Ketaatan itu ditunjukkan dengan cara mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun dalam ayat selanjutnya, Allah SWT memberitakan bahwa setelah generasi itu datanglah generasi pengganti yang memiliki sifat-sifat yang jauh berbeda dengan sifat generasi pendahulunya, yakni suka menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.

Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa peringatan Allah SWT terhadap orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah keras. Oleh karena itu marilah kita menjaga diri kita untuk menunaikan ibadah shalat secara kontinyu. Jangan lagi menganggap shalat sebagai urusan yang remeh sebagaimana kita saksikan para selebritis di TV yang dengan entengnya mengatakan bahwa dirinya mengerjalan shalat tapi shalatnya masih bolong-bolong tanpa merasa takut sedikitpun bahwa perilakunya yang kadang-kadang meninggalkan shalat adalah bentuk menyia-nyiakan shalat. Jangan lupa pula ingatkan orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga, sahabat, karyawan dan lain sebagainya untuk menunaikan shalat.



Baca Selengkapnya......

Rabu, 24 Desember 2008

Free Download MP3 - Murotal Sh. Sa'd Al Ghamidi

Untuk menyejukkan hati dan menenangkan jiwa sekaligus menambah keimanan, ada baiknya kalo kita sering mendengarkan bacaan murotal Al Qur'an. Dengan mendengarkan murotal diharapkan kita ingat kepada sang Maha Pencipta sehingga diharapkan keimanan kepada Allah SWT dapat terjaga kualitasnya.
Kali ini saya mau berbagi file MP3 murotal yang dibawakan oleh Sh. Sa'd Al Ghamidi. Murotal ini adalah favorit saya karena menurut saya dalam melantunkan bacaannya, beliau sangat menghayati makna dari ayat demi ayat yang dibacanya sehingga walaupun kita rada awam terhadap bahasa arab, namun seakan-akan kita dapat mengerti pesan yang terkandung dalam ayat yang dibacanya tersebut. Hal itu didukung pula dengan suara beliau yang sangat merdu sehingga dapat mempengaruhi hati para pendengarnya untuk larut ke dalam pesan-pesan yang terkandung dalam firman Allah SWT tersebut.
Bagi anda yang tertarik dan suka mendengarkan murotal yang dilantunkan oleh Sh. Sa'd Al Ghamidi, silahkan download filenya di sini. Mudah-mudahan dapat membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Amiin

01.Al Fatihah
02.Al Baqarah
03.Ali Imran
04.An Nisa
05.Al Maidah
06.Al An’am
07.Al A’raf
08.Al Anfaal
09.At Taubah
10.Yunus
11.Hud
12.Yusuf
13.Ar Rad
14.Ibrahim
15.Al Hijr
16.An Nahl
17.Al Isra
18.Al Kahfi
19.Maryam
20.Thaha
21.Al Anbiya
22.Al Hajj
23.Al Muminun
24.An Nur
25.Al Furqan
26.Ash Shuara
27.An Naml
28.Al Ankabut
29.Al Qashas
30.Ar Rum
31.Luqman
32.As Sajdah
33.Al Ahzab
34.Sba
35.Fathir
36.Yaasiin
37.Ash Shaffat
38.Shad
39.Az Zumar
40.Ghafir
41.Fushshilat
42.Asy Syura
43.Az Zukhruf
44.Ad Dukhan
45.Al Jatsiah
46.Al Ahqaf
47.Muhammad
48.Al Fath
49.Al Hujarat
50.Qaf
51.Adz Dzariyat
52.Ath Thur
53.An Najm
54.Al Qamar
55.Ar Rahman
56.Al Waqiah
57.Al Hadid
58.Al Mujadilah
59.Al Hashr
60.Al Mumtahanah
61.Ash Shaff
62.Al Jumuah
63.Al Munafiquun
64.At Taghabun
65.At Talaq
66.At Tahrim
67.Al Mulk
68.Al Qalam
69.Al Haaqqah
70.Al Maarij
71.Nuh
72.Al jin
73.Al Muzzammil
74.Al Muddatsir
75.Al Qiyamah
76.Al Insan
77.Al Mursalat
78.An Naba
79.An Naziaat
80.Al Abasa
81.Al Takwir
82.Al Infitar
83.Al Mutaffifin
84.Al Inshiqaq
85.Al Buruj
86.At Thariq
87.Al A’la
88.al Ghasiyah
89.Al Fajr
90.Al Balad
91.Asy Syams
92.Al Lail
93.Adh Dhuha
94.As Sharh
95.At Tin
96.Al Alaq
97.Al Qadr
98.Al Bayyinah
99.Al Zalzalah
100.Al Adiyat
101.Al Qariah
102.At Takatsur
103.Al Ashr
104.Al Humazah
105.Al Fiil
106.Quraish
107.Al Maun
108.al Kautsar
109.Al Kafirun
110.An Nashr
111.Al Lahab
112.Al Ikhlas
113.Al Falaq
114.An Naas




Baca Selengkapnya......

Selasa, 23 Desember 2008

Jangan Lupa kalau Jabatan itu adalah Amanah

Beberapa lama aku gak bisa nulis buat posting di blog ini. Sebulan setengah lamanya aku harus menjalani diklat Pim. IV di pusdiklat. Setelah diklatnya selesai, tidak serta merta aku punya banyak waktu luang untuk blog ini. Ya paling-paling buka-buka link blogger yang mampir sambil nambah-nambah temen buat memperbaiki peringkat blog ini. Alhamdulillah akhirnya aku bisa mencurahkan fikiran lagi di blog ini. Isi postingannya adalah oleh-oleh sewaktu diklat, tepatnya pas acara pembukaan ada sambutan dari pejabat LAN tentang percakapan Imam Al Ghazali dengan murid-muridnya yang isinya kurang lebih seperti ini:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 = ” Negeri Cina “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Imam Ghazali: “Apa yang paling berat didunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”
Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “
Imam Ghazali = “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?“
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185). “
Dari semua poin dalam percakapan di atas, perihal amanah adalah masalah yang diangkat sebagai tema sentral oleh sang pembicara. Maklum, diklatnya kan tentang kepemimpinan, jadi amanah adalah tema yang paling relevan dengan diklat tersebut.
Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin atau pejabat. Memang bagi sebagian orang atau bahkan mungkin aku sendiri, menjadi pemimpin atau dengan istilah lain “pejabat” adalah merupakan kebanggaan. Bagaimana tidak, seorang pejabat pasti dihormati bawahan, mendapatkan penghasilan lebih baik, menunjukkan prestasi sekaligus prestise seseorang. Jabatan adalah hal yang juga dapat “dipamerkan” kepada keluarga, teman atau tetangga. Pokoknya banyak sekali hal-hal yang membuat orang berebut untuk menjadi seorang pejabat.
Orang sering lupa bahwa di balik semua itu ada hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu amanah. Menjadi pemimpin berarti dia tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri tetapi juga bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dipimpinnya sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang amir (raja) memelihara rakyat dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Sorang suami memimpin keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Seorang ibu memimpin rumah suaminya dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta milik majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkanlah bahwa kalian semua memelihara dan akan dituntut tentang pemeliharaannya. (HR. Bukhari, Muslim)
Jika melihat isi hadits tersebut, pantas saja Imam Al Ghazali berpendapat bahwa amanah itu beratnya melebihi apapun yang ada di dunia ini seperti yang tersirat dalam percakaan beliau dengan murid-muridnya di atas.

Hal tersebut juga Nampak dalam hadits berikut.
Al Hasan berkata : Ubaidillah bin Ziyaad menjenguk Ma’qil bin Yasaar r.a. ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, maka Ma’qil berkata kepada Ubaidillah bin Ziyaad : Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah saw : aku telah mendengar Nabi saw bersabda : tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya bau surga (melainkan tidak mendapat bau surga) (HR. Bukhari, Muslim)

Mudah-mudahan Allah membimbing kita untuk dapat mengikuti jalan-Nya yang lurus dan benar. Sehingga kita selalu ingat bahwa menjadi pemimpin atau pejabat adalah amanah. Semoga Dzat Yang Maha Bijaksana mengajarkan kepada kita kebijaksanaan jika kita diberi amanah untuk memimpin dan senantiasa mengampuni dosa kita jika sekiranya dalam menjalankan amanah itu kita melakukan kesalahan. Semoga Allah SWT menjadikan kita pemimpin yang adil sehingga kita termasuk ke dalam golongan yang akan dinaungi Allah di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya sebagaimana hadits yang yang bunyinya :

Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1. Pemimpin yang adil, 2. Pemuda yg senantiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya, 3. Orang yang hatinya senantiasa berpaut pada masjid-masjid 4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5. Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang cantik untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', 6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan 7. Seseorang yang mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dari kedua matanya" (HR. Bukhari & Muslim)



Baca Selengkapnya......